Minggu, 24 Oktober 2010

Nursing STIKES MW "FARMAKOLOGI"

FARMAKOLOGI
A. Definisi psikotropik
Psikotropik adalah obat yang mempengaruhi fungsi perilaku, emosi dan pikiran yang biasa digunakan dalam bidang psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa. Sedangkan psikofarmakologi adalah ilmu yang mempelajari kimiawi, mekanisme kerja serta farmakologi klinik dari psikotropik. Psikofarmakologi berkembang dengan pesat sejak ditemukannya reserpin dan klorpromazin yang ternyata efektif untuk mengobati kelainan psikiatrik. Sekarang psikofarmakologi menjadi titik pertemuan antara cabang ilmu klinik dan preklinik yaitu: farmakologi, fisiologi, biokimia, genetika, serta ilmu biomedik lain. Berbeda dengan antibiotik, pengobatan dengan psikotropik bersifat sintomatik dan lebih didasarkan atas pengetahuan empirik.

Berdasarkan penggunaan klinik, psikotropik dapat dibedakan menjadi 4 golongan yaitu:
1. Antipsikosis (major traquilizer neuroleptik)
2. Antiansietas (minor traquilizer)
3. Antidepresi
4. Antimania (mood stabilizer)

A. Antipsikosis bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronik, suatu gangguan jiwa yang berat. Ciri terpenting obat antipsikosis ialah :
1. Berefek antipsikosis, yaitu berguna mengatasi agresifitas, hiperaktifitas dan labilitas emosional pada pasien psikosis.
2. Dosis besar tidak menyebabkankoma yang dalam ataupun anestesia.
3. Dapat menimbulkan gejala ekstra piramidal yang reversibel atau ireversibel.
4. Tidak ada kecenderungan untuk menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis.
Antipsikosis dapat dibagi menjadi beberapa bagian seperti:
 Antipsikosis tipikal: klorpromazin dan derivat fenotiazin.
Prototip kelompok ini adalah klorpromazin (CPZ). Pembahasan terutama mengenai CPZ karena obat ini sampai sekarang masih tetap digunakan sebagai antipsikosis.
Kimia : klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain didapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin.
Farmakodinamik : efek farmakologik klorpromazin dan antispikosis lainya meliputi efek pada susunan saraf pusat, sistem otonom, dan sistem endokrin. Efek ini terjadi karena antipsikosis menghambat berbagai reseptor, diantaranya dopamin, muskarinik, histamin H1.
Susunan saraf pusat : CPZ menimbulkan sedasi yang disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsangan dari lingkungan. Pada pemakian lama dapat timbul toleransi terhadap efek oksidasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emosional pasien sebelum minum obat.
Neurologik : pada dosis berlebihan, semua derivat fenotiazin dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal serupa dengan yang terlihat pada parkinsonisme.
Otot rangka : CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot rangka yang berada dalam keadaan spastik. Cara kerja relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medulla spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
Efek endokrin : CPZ dan beberapa antipsikosis lama lainya mempunyai efek samping terhadap sistem reproduksi. Pada wanita dapat terjadi amenore, galaktorea, dan peningkatan libido, sedangkan pada pria dilaporkan adanya penurunan libido dan ginokomastia.
Kardiofaskular : hipotensi ortostatik dan peningkatan denyut nadi saat istrahat biasanya sering terjadi dengan derivat fenotiazin. Tekanan arteri rata-rata resistensi perifer, curah jantung menurun dan frekuensi denyut jantung meningkat.
Farmakokinetik : kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35% sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak dan terikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
Efek samping : batas keamanan CPZ cukup lebar sehingga obat ini cukup aman. Efek samping umumnya merupakan perluasan efek farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi mungkin timbul berupa ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah perifer.
Sedian : klorpromazin tersedia dalam bentuk tablet 25 mg dan 100 mg. Selain itu juga tersedia dalam bentuk larutan suntik 25 mg/ml.
 Antipsikosis atipikal: olanzapin
Farmakodinamik : olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazetin, struktur kimianya mirip dengan klozapin. Olanzapin memiliki afinitas terhadap reseptor dopamin, reseptor serotonin dan histamin.
Farmakokinetik : olanzapin diabsorbsi dengan baik setelah pemberian obat, dengan kadar plasma tercapai setelah 4-6 jam pemberian, metabolisme di hepar oleh enzim CYP 2D6, dan diekskresi leawt urin.
Indikasi : indikasi utama adalah mengatasi gejala negatif maupun positif skizofenia dan sebagi antimania. Obat ini menunjukan efektifitas pada pasien depresi dengan gejala psikotik.
Efek samping : meskipun mirip dengan klozapin, olanzapin, tidak menyebabkan agranulosi-tosis seperti klozapin.
Sediaan : olazapin tersedia dalam bentuk tablet 5 mg, 10 mg, dan vial 10 mg.


Antiansietas terutanma berguna untuk pengobatan simptomatik penyakit psikoneurosis (neurosis, keluhan subjektif tanpa gangguan somatik yang nyata dengan fungsi mental – kogntif tidak terganggu) dan berguna untuk terapi tambahanpenyakit somatis dengan ciri ansietas ( perasaan cemas) dan ketegangan mental.
Ansietas didefinisikan sebagai perasaan kuatir atau ketakutan yang ditandai dengan keadaan fisik seperti palpitasi, berkeringat dan tanda-tanda sters lainnya. Contoh dari antiansietas yaitu :
• Golongan benzodiazepin.
Benzodiazepin yang dianjurkan sebagai antisietas adalah : klordiazepoksid.
Farmakodinamik : klordiazepoksid dan diazepam merupakan prototip derivat benzodiazetin yang digunakan secara meluas sebagai antiasietas.
Mekanisme kerja : mekanisme kerja benzodiazepin merupakan potensiasi inhibisi neoron dengan GABA sebagai mediatornya.
Efek samping dan kontra indikasi : pada gangguan dosisterapi jarang timbul kantuk, tetapi pada pakar lajak benzodizepin menimbulkan depresi SSP. Efek samping akibat depresi susunan saraf pusat berupa kantuk dan ataksia merupakan kelanjutan efek farmakodinamik. Derivat benzodiazepin sebaiknya jangan diberikan bersama alkohol, barbiturat atau fenotiazin. Kombinasi ini menimbulkan efek depresi yang berlebihan. Pada pasien gangguan pernapasan benzodiazepin dapat memperberat gejala sesak nafas.
Indikasi dan sediaan : derifat benzodiazepin digunakan untuk menimbulkan sedasi, menghilangkan rasa cemas, dan keadaan psikosomatik yang ada hubungan dengan rasa cemas. Selain sebagai ansietas juga digunakan sebagai hipnotik, antikonfulsi, pelemas otot dan induksi anestesi umum.
Toleransi dan ketergantungan fisik : keadaan ini dapat terjadi bila benzodiazepin diberikan dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu lama. Jadi pemberian golongan obat ini lebih dari 3 minggu sebaiknya dihindari.
 Penggolongan psikotropik :
1. Antipsikosis
a. Anipsikosis tipikal golongan fenotiazin : klorpromazin, flufenazin, perfenazin, tioridazin trifluperazin.
b. Antipsikosis tipikal golongan lain: klorprotiksen, droperidol, haloperidol, loksapin, molindon, tioktiksen.
c. Antipsikosis atipikal: klozapin, olanzapin, risperidon, quetiapain, sulpirid, ziprasidon, aripriprazol, zotepin.
2. Antiansietas
a. Golongan benzodiazepin: diazepam, alprazolam, klordiazepoksid, klonazepam.
b. Golongan lain: buspiron, zolpidem.

3. Antidepresi
a. Golongan trisiklik: imipramin, imitripilin,
b. Golongan heterosiklik(generasi keua dan ketiga): amoksatin, maprotilin, trazodon.
c. Golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs): fluoseptin, paroksetin, setralin.
d. Penghambat MAO: isokarbosazid, fenelzin.
e. Golongan serotonin neropinephrin reuptake inhibitopr(SNRI): venlafaksin.
4. Antimania (mood stabilizer)
a. Litium
b. Antimania lain : karbamazepin, asam valproat
5. Psikotogenik
• Meskalin
Meskalin merupakan suatu alkaloid yang berasal dari tumbuhan kaktus di amerika utara dan meksiko. Meskalin digunakan untuk orang indian dalam ritus keagamaan untuk mendatangkan trance. Meskalin hanya digunakan dalam penelitian untuk menyelidiki keadaan yang menyerupai psikosis, tidak untuk terapi atau diagnostik.
• Dietilamid asam lisergat dan marijuana (ganja).
Antidepresi adalah obat untuk mengatasi atau mencegah depresi mental. Depresi didefenisikan sebagai gangguan mental dengan penurunan mood, kehilangan minat atau persaan senang, adanya perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan tiodur atau penurunan selera makan, sulit kosentrasi atau kelemahan fisik(WHO, 2006.). gangguan ini dapat menjadi kronik atau kambuh dan mengganggu aktifitas pasien. Pada keadaan terburuk dapat mencetuskan bunuh diri, suatu kejadian fatal yang dewasa ini semakin terjadi.
Antidepresi dapat dibagi menjadi beberapa bagian seperti :
a. Golongan trisiklik: imipramin, imitripilin,
Farmakodinamik : sebagian efek farmakodinamik antidepresi trisiklik mirip efek tromazin.
Efek psikologik : pada manusia normal imipramin menimbulkan rasa lelah, obat tidak meningkatkan alam perasaan dan meningktkan rasa cemas.
Susunan saraf otonom : imipramin jelas sekali memperlihatkan efek antimuskarinik, sehingga dapat terjadi penglihatan kabur, mulut kering, dan retensi urin.
Kardiofaskuler : pemberian imipramin dalam dosis terapi pada manusia sering menimbulkan hipotensi ortostatik. Dalam dosis toksis, imipramin dapat menimbulkan aritmia dan takikardia.
Efek samping : efek dari obat ini berupa perasaan lemah, hipertensi, dan hiperperiksia.

b. Golongan heterosiklik(generasi keua dan ketiga): amoksatin, maprotilin, trazodon.
c. Golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs): fluoseptin, paroksetin, setralin.
d. Penghambat MAO: isokarbosazid, fenelzin.
e. Golongan serotonin neropinephrin reuptake inhibitopr(SNRI): venlafaksin.
Antimania atau mood stabilizer adalah obat yang kerjanya terutama mencegah naik turunya mood pada pasien gangguan bipolar (sindrom manik-depresi). Litium karbonat merupakan prototip obat golongan ini.
Contoh dari antimania yaitu: litium.
Farmakokinetik : absorbsi lengkap dalam 6-8 jam, kadar plasma dapat dicapai dalam 20 menit sampai 2 jam. Volume distribusi 0,5L/kg, ekkresi terutama lewat urin dengan waktu paro eliminasi 20 jam.
Indikasi : sampai saat ini litium karbonat dikenal sebagfai obat untuk gangguan bipolar terutama pada fase manik dan untuk pengobatan penunjang. Pengobatan jangka panjang terbukti menurunkan insiden percobaan bunuh diri.
Efek samping : indeks terapi litium rendah, maka untuk pemberian yang aman perlu dilakukan pemantauan dalam plasma atau serum. Pemeriksaan ini dilakukan 10-12 jam setelah dosis terakhir. efek samping yang terjadi terutama pada saraf tremor, juga dapat menurunkan fungsi tiroid.
Dosis dan sediaan : litium diberikan dalam dosis terbagi untuk mencapai kadar yang dianggap aman yaitu berkisar antra 0,8-1,25mEq per liter.ini dicapai dengan pemberian 900-1500 mg litium karbonat pada pasien berobat jalan dan 1200-2400 mg sehari pada pasien yang dirawat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar